Tren Fashion Tren FashionCatatan pilihan untuk pembaca Indonesia.
general

Tren Fashion Pria: Antara Viral TikTok dan Gaya Sehari-Hari

Apa yang sebenarnya mendorong tren fashion pria di Indonesia? Sebuah pengamatan dari Kotabangli tentang pergeseran gaya yang dipicu media sosial dan komunitas.

2 May 2026 · 3 menit baca · oleh Wahyu Hidayat
Tren Fashion Pria: Antara Viral TikTok dan Gaya Sehari-Hari

Beberapa bulan terakhir, saya serng melihat pemuda di Kotabangli memakai kemeja flanel yang dikenakan longgar di atas kaos putih polos. Awalnya saya kirain itu cuma kebetulan, tapi semakin banyak yang memadukannya dengan celana cargo dan sepatu sneakers putih. Saya mulai bertanya-tanya: apa yang membuat satu gaya tiba-tiba mendominasi di kota kecil seperti ini? Dari obrolan di warung kopi, jawabannya sering sama: TikTok. Bukan sekadar ikut-ikutan, ada mekanisme sosial yang lebih menarik di baliknya.

Dari Layar ke Trotoar: Bagaimana Media Sosial Membentuk Pilihan Pakaian

Fenomena ini bukan semata soal tren visual. Saya perhatiin bahwa gaya flanel dan kaos putih sebenarnya sudah ada sejak era 90-an, tapi kebangkitannya sekarang punya konteks baru. Di linimasa, konten styling pria dari akun-akun lokal kayak @fashionkita atau @pria_rapi sering menampilkan kombinasi itu sebagai "basic but elevated". Yang menarik, para pemuda di sini nggak sekadar menyalin foto—mereka nyesuain dengan iklim dan ketersediaan barang. Kemeja flanel dibeli di pasar tradisional, kaos putih dari distro lokal, dan sepatu sneakers putih bisa berupa tiruan atau original, yang penting siluetnya sama.

Perubahan lain mulai terlihat: semakin banyak pria yang memakai aksesoris kayak tas selempang kecil, jam tangan digital casio, atau gelang kulit. Padahal tiga tahun lalu, aksesoris seperti itu nyaris tidak terlihat di kalangan anak muda Kotabangli. Menariknya, tren ini nggak datang dari majalah mode tapi dari rekomendasi algoritma. Setiap kali saya menggulir TikTok, ada seorang teman yang menandai video styling di grup WhatsApp. Mereka lalu diskusi merek mana yang lebih tahan banting atau warna apa yang lagi "in". Proses ini lebih organik bangeet dibandingkan iklan majalah langganan era 2000-an Ringkasannya pernah saya buat di tren fashion.

Dari observasi ini, saya jadi curiga bahwa tren fashion pria sekarang bukan lagi soal mengikuti selebriti, melainkan soal partisipasi dalam komunitas digital. Ketika seseorang memakai flanel dan kaos putih, ia sebenarnya menandakan bahwa ia melek konten terbaru dan bisa menafsirkannya dengan budget terbatas. Ini semacam kode visual yang hanya dipahami oleh mereka yang juga aktif di ruang daring yang sama.

Yang lebih menarik, tren ini juga memicu munculnya toko pakaian pria baru di Kotabangli. Beberapa teman saya mulai menjual kaos polos dengan label mereka sendiri, meniru konsep thrift shop yang viral. Jadi, aliran tren tidak lagi satu arah dari pusat mode global ke daerah, melainkan memutar lewat TikTok, diinterpretasikan ulang secara lokal, lalu menciptakan ekonomi mikro baru. Saya belum bisa memastikan apakah ini akan bertahan lama, tapi setidaknya untuk sekarang, cara pria berpakaian di sini lagi menceritakan kisah tentang bagaimana mereka melihat dunia—lewat layar ponsel masing-masing.

Saya sendiri penasaran, apakah ketika tren berikutnya datang (misalnya gaya kerja kasual atau athflow), prosesnya akan sama? Atau justru akan ada resistensi karena sudah terlalu nyaman dengan tampilan flanel dan kaos putih? Yang pasti, fashion pria di Indonesia tidak lagi soal iklan atau peragaan busana—ia hidup di percakapan sehari-hari, di kolom komentar, dan di langkah kaki di trotoar Kotabangli.

Selengkapnya di: sumber resmi

Tag: #tren fashion #fashion pria #gaya hidup